News Ticker

Trend Bunuh Diri Ibu dan Kepekaan Sosial Si Kaya.

Topik: Sosial
Panjang: ± 900 kata.
Waktu: ± 5 menit. 
TLDR: Kita perlu untuk lebih peka melihat bahwa apa yang mungkin untuk kita tidak seberapa, bisa berarti hidup dan mati bagi orang lain.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

In the name of Allah, the Most Beneficient, the Most Merciful

Seorang ibu dan anaknya melakukan bunuh diri dengan melompat dari atas Jembatan Pulo Empang, Bogor [1]. Sementara di tempat lainnya, seorang ibu  di Klaten mengajak 2 orang anaknya yang masih balita untuk bakar diri [2]. Sang ibu tewas di tempat, namun beruntung kedua anaknya berhasil diselamatkan walaupun menderita luka bakar. Tidak hanya kedua kasus ini, masih banyak kasus bunuh diri sejenis yang melibatkan ibu dan anak-anaknya. Menariknya, meskipun tempat kejadiannya berbeda, namun peristiwa ini disinyalir oleh penyebab yang sama: Himpitan Ekonomi.

Kerasnya Kehidupan Masa Kini

Himpitan ekonomi, sebuah kata-kata yang tidak asing lagi bagi kita semua. Hidup di masa sekarang begitu ketat dan penuh persaingan. Lapangan kerja semakin sulit untuk dicari. Jika pada zaman dahulu menjadi seorang sarjana adalah sebuah keniscayaan terhadap penerimaan kerja, sekarang makin banyak sarjana yang sulit untuk mendapatkan pekerjaan dan pada akhirnya menjadi pengangguran. Begitu sulit dan ketatnya persaingan dalam mencari pekerjaan, sampai-sampai tidak sedikit tenaga kerja yang rela pulang-pergi Jakarta-Bogor untuk mendapatkan gaji yang pas di UMR (Upah Minimum Regional).

Kehidupan di zaman ini begitu berat, sampai-sampai tidak sedikit orang yang nekad untuk mengambil jalan pintas untuk mendapatkan meringankan beban hidupnya. Tak terhitung berapa banyak orang yang nekad beralih profesi menjadi perampok, pencopet, ataupun koruptor untuk mendapatkan uang. Ataupun betapa banyak orang yang berpendapat bahwa mencari duit haram itu lebih memungkinkan daripada mencari duit halal. Kenal khan dengan slogan “Jaman sekarang mah, nyari yang haram aja susah, gimana yang halal”? Itu salah satu bukti dari beratnya zaman ini.

Kembali ke trend bunuh diri ibu rumah tangga yang mengajak anak-anaknya, sebenarnya ini merupakan salah satu trend yang menurut saya sangat mengerikan dan juga menyedihkan. Kenapa saya berpendapat demikian? Karena seorang ibu adalah orang yang paling sayang kepada anaknya! Sebegitu sayangnya seorang ibu kepada anaknya, sampai-sampai muncul peribahasa bahwa “Kasih anak sepanjang galah, namun kasih ibu sepanjang zaman”. Dan ketika seorang ibu rela untuk melihat anaknya ikut mati bersama dirinya, kesimpulannya hanya 1:

Ada sesuatu yang amat sangat salah di masa ini!

Namun…

Tapi ternyata, tidak semua orang loh mengalami himpitan ekonomi.  Lihat saja beberapa waktu yang lalu, ada seorang artis yang belakangan menghabiskan uang milyaran rupiah untuk resepsi pernikahannya yang bertema “seribu satu malam”. Atau betapa orang yang setiap tahun menghabiskan ratusan juta rupiah untuk perjalanan wisata ke luar negeri. Mereka ini adalah orang yang serba pas-pasan. Pas mau liburan, pas ada duit buat jalan-jalan. Pas mau nikah, pas ada duit banyak untuk membuat resepsi pernikahan yang heboh. Indahnya dunia bagi mereka (tanpa melupakan bahwa mereka juga bekerja keras untuk ada uang).

Memang sih, jika dilihat dari kacamata hukum bukanlah sesuatu yang salah jika seseorang menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang bersifat hiburan dan kemewahan, terlebih lagi jika dia sudah membayar pajak kepada negera. Akan tetapi menurut saya pribadi:

Adalah sesuatu yang tidak elok jika di masa ini ada orang yang bisa dan mau dengan mudahnya “membuang” uang ratusan juta bahkan milyaran rupiah untuk sesuatu yang tidak esensi. Sementara di sisi lainnya ada orang yang berdarah-darah untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokoknya.

Melihat Lebih Peka, Andaikan Saja…

Sebelum ada salah paham, saya tidak bermaksud untuk melarang ataupun menghina orang-orang yang menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang menurut saya tidak esensi tadi. Karena saya bukan siapa-siapa bagi mereka, dan itu sepenuhnya adalah hak pribadi dari orang yang memiliki uang tersebut. Tapi coba deh kita berpikir sejenak, gimana jadinya kalo misalnya uang itu dipakai secukupnya sesuai tujuannya, dan sisanya digunakan untuk membantu orang-orang yang lebih membutuhkannya.

Yuk kita tinjau contoh pertama. Seorang pria dan wanita yang tajir ingin menikah. Pastinya donk yah kalo di Indonesia acara pernikahan itu dibagi 2, acara akad nikah dan resepsi pernikahan. Karena mereka adalah orang yang sangat kaya raya, pada awalnya mereka merencanakan akan menghabiskan dana sebesar 4 milyar rupiah untuk mengadakan pesta pernikahan mereka. Akan tetapi, setelah mereka berfikir lebih dalam, mereka berniat untuk memotong anggaran pernikahan mereka, dan mendonasikannya ke pihak yang lebih membutuhkan. Akhirnya setelah merancang pernikahan yang “sederhana” namun tetap membuat tamu nyaman, mereka menghabiskan dana “hanya” sekitar 300 jutaan rupiah. Hal ini berarti mereka bisa mendonasikan uang sebesar 3,7 milyar untuk orang yang lebih membutuhkan.

Sekarang mari kita liat kasus yang kedua. Sebuah keluarga ingin melakukan kegiatan tamasya ke tempat yang bagus dan menarik. Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan mewah keliling eropa. Dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 4 orang, dan per orang menghabiskan uang 30 juta rupiah, maka mereka akan menghabiskan uang sebesar 120 juta rupiah untuk melakukan perjalanan ini. Tapi entah mengapa, mereka tiba-tiba mengubah tujuan mereka menjadi pesiar di dalam negeri. Dan total biaya yang mereka butuhkan pun menjadi berkurang drastis, dari 120 juta rupiah, menjadi “hanya” 30 juta rupiah saja.  Artinya, ada 90 juta rupiah yang mereka hemat (sukur-sukur kalo misalnya sebagiannya mau mereka sumbangkan  untuk mereka yang kurang mampu.)

Sekarang apa sih arti dari penghematan yang dihasilkan dari kedua contoh di atas? Mari kita lakukan sedikit hitung-hitungan. Misalkan, biaya pendidikan untuk siswa smu (termasuk untuk buku, dan lainnya) adalah 500 ribu – 1 Juta rupiah setiap bulannya. Maka

penghematan pada kasus 2 akan bisa menyekolahkan 3 orang dari kelas 1 SMA sampai lulus SMA.

Sedangkan

penghematan di kasus 1 akan bisa digunakan untuk menyekolahkan 100-200 orang siswa dari kelas 1 SMA sampai lulus SMA!

Dan itu baru dari 2 kasus saja! Bayangkan jika ada banyak orang yang melakukan penghematan seperti ini, dan hasil penghematannya digunakan untuk membantu orang-orang yang kurang mampu, dunia akan menjadi tempat yang lebih indah tentunya.

Sumber

[1] Metro TV News. “Ibu dan Anak Tewas Bunuh Diri dari Jembatan”. Diakses Juli 9, 2012, dari http://www.metrotvnews.com/metromain/news/2012/07/04/97110/Ibu-dan-Anak-Tewas-Bunuh-Diri-dari-Jembatan.

[2] Detik. “5 Kasus Bunuh Diri Ibu & Anak karena Himpitan Ekonomi”. Diakses Juli 9, 2012, dari http://news.detik.com/read/2012/07/04/114843/1957364/10/5-kasus-bunuh-diri-ibu-anak-karena-himpitan-ekonomi.

*gambar diambil dari http://www.harianjogja.com/2012/harian-jogja/gunung-kidul/bunuh-diri-depresi-ngadirin-ngendat-191885

Advertisements
About wahidyankf (186 Articles)
JavaScript Developer. His life-motto is "Learning, Dreaming, and Enjoying life".

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: