News Ticker

Siswa Tawuran? Salahkan Orang Tua!

Topik: Pendidikan
Panjang: ± 600 kata.
Waktu: ± 3 menit. 
TLDR: Kurangnya kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak juga turut mengambil andil di dalam terjadinya tawuran siswa.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

In the name of Allah, the Most Beneficient, the Most Merciful

Tawuran antar siswa kembali pecah di Bundaran Bulungan, Jakarta Selatan. Tawuran yang melibatkan siswa SMA 70 dan SMA 6 Jakarta ini memakan 1 orang korban tewas, dan 2 orang luka-luka [1]. Sudah cukup jengah rasanya kita mendengar berita tentang tawuran yang ada di Indonesia, dan sudah tak terhitung pula banyaknya korban yang terjadi akibat tawuran ini. Saya pribadi semakin jengah ketika banyak orang yang menyalahkan pihak sekolah sebagai pihak yang terlalai di dalam hal ini. Benarkah pihak sekolah sebagai satu-satunya pihak yang harus kita salahkan? Saya rasa tidak. Menurut saya,

orang tua siswa lah yang paling bertanggung jawab sebagai penyebab utama terjadinya tawuran!

Salah satu penyebab tawuran yang paling dasar adalah kondisi psikologi remaja yang cenderung berapi-api dan tidak stabil. Adapun ketidakstabilan kondisi psikologi remaja yang labil ini disebabkan oleh fase pencarian jati diri, dan identitas kehidupan yang sedang mereka alami [2]. Sebenarnya, jika para pemuda (dan pemudi) ini berada di dalam lingkungan yang kondusif dan nyaman, maka kondisi psikologi pemuda yang cenderung labil ini tidak akan menimbulkan gesekan yang cukup berbahaya terrhadap pihak lainnya. Akan tetapi, jika berada di dalam kondisi yang tidak nyaman, maka bukanlah sesuatu yang mengherankan jika terjadi gesekan antara pemuda yang satu dengan yang lainnya. Dan jika gesekan ini berlangsung terus menerus, bukan tidak mungkin sebuah peristiwa berdarah seperti tawuran di atas terjadi.

Lalu apa yang bisa meredam ketidakstabilan para remaja ini? Jawabannya adalah dengan menanamkan sebuah nilai pada diri remaja-remaja ini. Sebuah nilai yang menekankan bahwa seberapapun hidup menjadi tidak nyaman, ada norma-norma dan nilai-nilai bermasyarakat yang harus dipenuhi, dan tidak boleh dilanggar. Sebuah nilai yang mengajarkan bahwa menyakiti seseorang adalah sesuatu yang salah, apalagi menghilangkan nyawa orang tersebut. Dan siapa pihak yang paling seharusnya paling bertanggung-jawab terhadap penanaman nilai itu? Simpel, pihak yang paling lama berinteraksi dan bersentuhan dengan mereka. Orang Tua! Ibu dan Bapak, dan bukan yang lainnya.

Sayangnya, banyak sekali orang tua yang tidak sadar, bahwa peran mereka sedemikian besarnya di dalam pembentukan karakter seorang remaja, yang notabene adalah darah daging mereka. Mereka berpikir bahwa sekolah formal adalah sebuah bengkel ketok-magic. Mereka berharap bahwa dengan memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah tertentu yang mereka anggap elit, maka anak-anak mereka bisa menjadi anak yang pintar dan berkelakuan baik. Tapi

mereka lupa bahwa sekolah informal di kehidupan berkeluarga mereka lah yang paling berperan dalam pembentukan mental anak-anak mereka.

Para orang tua yang lalai ini larut dalam pembenaran-pembenaran dari sikap mereka yang salah. Apakah mereka lupa bahwa hampir tidak mungkin mencetak seorang anak yang rajin berolah raga misalnya, jika mereka sendiri tidak rajin berolah-raga? Atau pun adalah sangat sulit untuk membesarkan seorang anak yang tidak merokok, jika rumahnya sendiri selalu dipenuhi oleh asap rokok sang bapak? Mereka terlalu asik di dalam dunia kerjanya, tanpa ingat, untuk siapa mereka bekerja. Bukankah mereka bekerja untuk anaknya? Bukankah seorang anak juga berhak mendapatkan pendidikan informal yang baik dari kedua orang tuanya? Terlalu berlebihankah untuk orang tua menyadari hal tersebut?

Memang betul, dan saya pun setuju jika sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan formal di dalam negara ini, harusnya bisa mentransfer nilai-nilai luhur untuk para siswanya. Dan adalah hal yang patut pula jika kita mempertanyakan peran sekolah di dalam pencegahan fenomena tawuran siswa ini. Akan tetapi, apakah bijak jika semua tanggung jawab tentang tawuran ini kita lemparkan kepada mereka tanpa mempertanyakan peranan orang tua? Saya rasa tidak.

-Yoka-

———-

[1] Pertiwi, A. (2012, September 24). “”Begini Kronologi Tawuran Siswa SMA 6 Versus SMA 70”. Tempo.co. [diakses] 26 September 2012, 16:30 WIB, [dari] http://www.tempo.co/read/news/2012/09/24/064431613/Begini-Kronologi-Tawuran-Siswa-SMA-6-Versus-SMA-70 .

[2] Asrori, A. (2009, April 13). “Psikologi Remaja, Karakteristik, dan Permasalahannya”. Netsains.net. [diakses] 26 September 2012, 16.50 WIB, [dari] http://netsains.net/2009/04/psikologi-remaja-karakteristik-dan-permasalahannya/ .

Advertisements
About wahidyankf (186 Articles)
JavaScript Developer. His life-motto is "Learning, Dreaming, and Enjoying life".

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: