News Ticker

Menulis dan Sekeping Kisah dari Masa Lalu

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

In the name of Allah, the Most Beneficient, the Most Merciful

Peringatan:

Postingan ini akan bersifat agak lebay (atau emang lebay?). Jadi buat kamu yang punya “bakat” untuk mabok di perjalanan, saya sarankan untuk berhenti sampai di sini. Dan kalau pun kamu bersikeras untuk terus membaca, saya sangat menyarankan untuk kamu segera meminum antimo sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.😀 Tulisan ini juga tidak akan ada manfaatnya untuk kamu baca, karena tulisan ini hanya akan berisikan curhatan saya saja. So to all of you that don’t want to waste your time, just close this article. Before it is too late.😀 Tapi untuk kalian yang tetap memutuskan untuk membaca: Please enjoy this post! :D

Ketika Semuanya Bermula (Alasan Pertama Menulis)

Saya cinta menulis! Iyah, cinta! CIN – TA. Ce – I – eN – Te – A. Menulis selalu menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan untuk saya, karena menulis merupakan salah satu cara yang saya gunakan untuk mengosongkan isi kepala saya agar saya bisa lebih optimal dalam menyerap hal baru lainnya (yeah, I definitely know that it sounds weird. But hey! At least it works for me! :D). Selain itu dengan menulis saya juga bisa mendapatkan kepuasan batin, terutama ketika tulisan saya dianggap bagus atau berguna oleh para pembaca. Sebuah rasa yang saya rasa tidak bisa dibeli dengan uang, dan hanya dimengerti oleh orang yang juga suka menulis.😀

Hm.. Sebenernya kapan sih awal saya mulai menulis dan karena apa? Saya mulai menulis ketika patih Gajah Mada masih rajin ke Gym dan latian angkat barbel Awal saya mulai menulis adalah ketika saya kuliah tingkat 1 di Bandung dulu. Saat itu saya mengikuti mata kuliah “Konsep Teknologi”, sebuah mata kuliah yang mengajarkan tentang apa itu teknologi, inovasi, dan hal-hal filosofis lainnya yang berhubungan dengan teknologi. Mata kuliah ini sangat menarik menurut saya, salah satunya karena sang pengajarnya adalah salah satu dosen favorit saya: Babeh Budi Rahardjo Ph. D. (mungkin akan saya ceritakan tentang beliau di lain kesempatan :D). Oia, jadi inget. Saya masih inget banget kata-kata pembuka Pak Budi di kuliah ini:

“Buat kalian yang merasa kesulitan keuangan sejauh ini, jangan khawatir! Kesusahan kalian akan masih terus berlanjut!”

Dan entah kenapa saya selalu teringat kata-kata (dan tersenyum geli) ini ketika saat saya sedang mengalami kesulitan finansial untuk studi di Jerman. Bener banget Pak! Hahaha.😀

Lanjut. Seperti mata kuliah lainnya, di mata kuliah ini juga ada tugas dong. Nah, salah satu tugas di mata kuliah ini lah yang membuat saya mulai menulis. Membuat blog. He euh! Seperti yang sedang kamu baca saat ini! Be – eL – O – Ge! Blog!

goBlog? WTH! I am not good (in fact, I am very bad) at writing! Aneh-aneh aja deh tugasnya. Mau jadi wartawan (tanpa merendahkan profesi wartawan) apa? Kenapa gak disuruh ngelukis aja sekalian (hal yang saya bener-bener gak bisa)? Huff!

Begitulah yang ada di pikiran saya saat itu. Ekstrim yah? Tapi begitulah adanya.😀

Saat itu otak saya menolak keras tugas membuat blog itu. Namun, entah kenapa Pak Budi ini sangat menekankan ke kami (para mahasiswa yang ada di kelas itu) bahwa menulis merupakan salah satu hal yang harus dikuasai oleh semua akademisi. Beliau berpendapat bahwa menulis merupakan salah satu cara untuk menunjukkan intelejensia kita, dan juga sebagai media untuk menyalurkan salah satu hal yang paling berharga dari tiap akademisi: ide. Singkat cerita: akademisi/orang yang bisa menguraikan idenya dengan menarik akan bisa lebih mudah mencapai tujuannya daripada yang tidak bisa (and now I find that it is definitely true!).

Well, jujur aja saat itu saya tidak tertarik dengan ide tentang akademisi ato yang lainnya. Karena apa? Simpel. Karena saya salah jurusan! Saat itu yang ada di otak saya setiap hari adalah:

Gua gak mau jadi akademisi! Gua pengen jadi pebisnis (long story) dan jadi tajir! Get me the hell out of here!

Lanjut lagi. Di tengah-tengah penolakan saya terhadap tugas tersebut, tiba-tiba Pak Budi mengatakan sesuatu yang cukup menarik untuk saya saat itu: tulisan juga bisa berguna sebagai suatu media untuk menunjukkan tingkat intelejensia kita. Okeh, agak menarik di sini. Dan apa yang saat itu saya pikirkan? Pikiran picik dan labil saya berkata bahwa setidaknya tugas ini bisa jadi tempat bagi saya untuk pamer otak dengan menulis sesuatu yang menunjukkan kalau saya adalah seseorang yang pintar! Asik! >:] Dan begitulah perjalanan menulis saya ini dimulai. Sebuah tugas aneh di sebuah mata kuliah yang santai.

Waktu terus berlalu, dan saya pun semakin menyadari bahwa hal terasik dari menulis sama sekali bukan untuk pamer kepintaran, akan tetapi untuk mengekspresikan diri, dan berbagi dengan orang lain. Dan akhirnya jadilah tulisan saya seperti yang sekarang ini: Coretan Yoka versi 3 rev 1. Kenapa versi 3 rev 1? Karena versi alpha, beta dan versi 1 merupakan saat-saat dimana saya menulis hanya untuk sekedar tugas dan pamer, sedangkan versi 2 adalah ketika saya menemukan bahwa menulis itu asik, namun saya menulis dalam gaya tulisan yang bukan diri saya sendiri. Selanjutnya versi 3.0 adalah ketika saya mulai menulis dengan gaya saya sendiri (tanpa menjadi orang lain) namun masih mencari bentuk yang stabil. Dan yang terakhir, versi 3 revisi 1 adalah versi saya menulis sama seperti versi 3, namun sudah yakin ke arah mana saya akan bergerak dalam dunia tulis menulis. Pendidikan dan Engineering!😀

Sepotong Kisah dari Masa Lalu (Dan Juga Alasan sebenarnya Kedua)

Hm.. Setidaknya jawaban di atas adalah jawaban formal yang saya berikan ketika saya ditanya oleh orang yang tidak terlalu dekat dengan saya tentang perihal sejak kapan dan kenapa saya mulai menulis. Gak salah dan gak bohong sebenernya. What I said before is real! Tapi kalau boleh curhat, ada alasan kedua yang bikin saya mau menapakkan kaki ke dunia tulis menulis. Sebuah alasan yang sampai saat ini tidak banyak yang tahu (atau bahkan tidak ada yang tahu): dia. Iya! dia. Sekeping masa lalu yang rasanya manis bagaikan gula, namun pada saat yang sama juga pahit bagaikan butir kopi. Dia dan cinta pertama dalam hidup saya. Tsahhhh.. Gokil gak tuh bahasanya?

ABG labil banget sih ini ceritanya, tapi singkat kata saat itu saya suka dengan seorang Dian Sastro wanita (tolong jangan kaget, saya normal. :D) yang memiliki hobi ngeblog dan menulis. And God! I adore that woman so much at that time. I was head over heels for her! Pernahkah kalian punya seseorang dalam hidup kalian yang bisa membuat dengkul terasa lemas, mulut kaku, perut mulas, dan bolak-balik ke toilet untuk buang air besar setiap ketemu ada angin lembut yang berhembus, waktu berjalan lambat, dan yang bisa kita lakukan di dekatnya cuman bengong sambil ngences? Saya pernah! Dan dia adalah salah satunya (yang terakhir/sekarang juga pastinya). Dan sebagaimana seorang pemuda yang sedang jatuh cinta, saat itu saya ingin mendalami dunia seseorang yang saya suka. Jadilah saya semakin bulat untuk mencoba masuk ke dunia tulis menulis (labil pisan gak sih gua? haha.).

Kalau bulan bisa ngomong boleh jujur sebenarnya saat itu saya gak tahu menahu gimana cara menulis yang baik dan benar (sampai sekarang juga masih belajar sih sebenernya.. X_x). Yang saya tahu hanyalah dia sangat senang menulis (in fact saat itu dia pernah bercerita ingin bekerja di bidang tulis menulis), dan otak saya penuh dengan ide-ide yang ingin saya tulis akan tetapi selalu tidak bisa saya eksekusi dengan baik dan benar. Yang bisa saya tulis di blog saya saat itu hanyalah tulisan-tulisan sampah. Jauh lebih sampah daripada blog saya saaat ini (kebayang gak seberapa sampahnya?). X_x Sangat jauh dengan level blog, dan tulisan si dia. Ya iya lah yah, bodoh amat saya waktu itu. Gimana mungkin ngebandingin tulisan saya yang baru nulis beberapa minggu, dengan tulisan dia yang memang sudah mulai menulis dari jauh hari sebelum masuk SMA! X_x Cuman yah gitu, tetap saja saya terus mencoba untuk terus menulis di blog saya, walaupun sampai bertahun-tahun setelah saya mulai menulis (bahkan sampai saat ini) gap kemampuan itu masih belum juga hilang. Haha.

And yup! That is the “real” story how I began to write.😀

Kenapa Saya Menulis Ini

Anyway, mungkin ada yang bertanya (gak juga ada juga gak apa sih, paling saya pergi ke pojok, nangis, dan bakar-bakar foto-foto Nycta Gina di sana gak wajib juga. :D) kenapa saya nulis hal sepribadi ini di sini. Well, gak ada alasan khusus kok sebenernya. Cuman saya baru saja mendapatkan kabar dari salah seorang teman saya bahwa dia akan menikah dengan pria pilihannya akhir tahun ini. Oia, long story short: we didn’t end well. And I can’t even have the courage to say that important thing (at least for me) to her. Balik lagi, jadilah entah kenapa saya berpikir bahwa sepertinya sekarang adalah saat yang tepat untuk menuliskan hal ini di sini, sebelum hal ini menjadi tidak “lucu” lagi. :S

Jujur, saya sama sekali tidak berharap bahwa dia akan (entah bagaimana) membaca postingan ini, membatalkan pernikahannya, dan kemudian membuka pintu hatinya untuk saya seperti di film-film. Hell no! Saya sudah move-on dari dia sejak lama, dan sudah sangat bahagia dengan pasangan saya yang sekarang (I know for sure that she [my current not-yet-legal half] is not perfect, but we are perfect), dan saya juga yakin bahwa dia bahagia dengan kehidupan dan pasangannya yang sekarang. Jadi gak ada sama sekali tujuan penulisan ini yang mengarah ke sana. Tujuan saya menulis ini bener-bener murni ingin cerita aja di sini.😀

Dia memang pernah menjadi seseorang yang bikin dunia saya jungkir balik, dan membuat dunia saya berhenti berputar (atau malah berputar lebih kencang?). Akan tetapi saat ini dia “hanya”lah sebuah kepingan kecil dari manis dan pahitnya kenangan cinta pertama saya. Tidak ada penyesalan di dalamnya. Tidak ada kata-kata “andaikan dulu saya”, “coba aja dulu”, if only I am him, atau pun yang sejenisnya. Kalaupun ada yang mengganjal, itu hanyalah sebuah rasa penasaran atas sebuah jawaban singkat ya/tidak dari sebuah pertanyaan klasik: apakah dulu dia pernah merasakan hal yang sama (walaupun pastinya saya punya teori tersendiri tentang ini)? Gak lebih dan gak kurang.🙂

End of Story

Kalo boleh jujur, sebenarnya sudah tidak terhitung berapa kali saya mengoreksi tulisan saya ini dari segi isi, penyusunan kata dan juga yang lainnya. Tulisan ini telah melewati jumlah revisi yang jauh lebih banyak dari tulisan yang biasa saya tulis di blog ini. Aneh? Mungkin. Lebay? Bisa jadi. But I couldn’t resist the temptation to make this post as perfect as possible in case she read it, and realize that this post is for and talking about her (who knows?). Or could I?😀

Well, anyway. Mungkin saya tidak punya keberanian yang cukup untuk mengatakan hal ini secara langsung ke kamu, tapi lewat tulisan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kamu yang pernah datang di dalam kehidupan saya, dan menjadi kepingan indah itu. Saya ucapkan terima kasih juga untuk semua yang pernah kamu berikan kepada saya, baik itu berupa materi atau pun non materi. Saya ucapkan selamat yang tulus untuk kamu dan dia. Semoga kalian bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah, diberikan keturunan dan rejeki yang terbaik, dan selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Terima kasih juga karena telah mengenalkan saya dengan dunia tulis menulis yang penuh warna ini. Terima kasih banyak untuk semuanya. Terima kasih.

And that’s it! I think that this is the right time for me to fully graduate from her. Kisah dan kepingan yang indah ini akan saya letakkan, dan cukupkan sampai di sini saja. Bye you.🙂

Bad Driburg, 9 Desember 2013.

Untuk kamu, masa lalu, sepiring nasi goreng, dan senandung lagu Mocca di tengah rintik hujan di tahun 2004.
.

– Yoka –

Note:

Hey you, yes you. If you ever happened to read this post, could you tell me about that thing? I will be really grateful if you do that.

About wahidyankf (178 Articles)
Computer Engineer. His life-motto is "Learning, Dreaming, and Enjoying life".

2 Comments on Menulis dan Sekeping Kisah dari Masa Lalu

  1. 2004 – nasi goreng – mocca. Gw ngebayangin settingannya adalah ‘nyoleh’ di kantin IC (atau menu nasi goreng hari minggu pagi ya?) sambil dengerin walkman (tentu isinya kacet cuy, bukan CD). Udah berasa paling gaul deh jalan sambil denger walkman (ya kalo lari namanya ‘runman’ ya.. *krik*).

    Alhamdulillah yok, gw baca sampe akhir dan ga mual. Padahal tadi udah muter2 ke warung cari antimo sih.😀

    Hmm..the other half. Gaya banget bahasa lo. Selamat dulu lah!😉

    Like

    • Wow.. Ada Icha.. Dibaca sampe tuntas pulak.. Jadi malu gue.. hahahaha.. Runman? kayak serial korea aja.. :p Lebay yak cha? Yang tabah yah sekali-kalinya lo dengerin gua gini.. haha..

      Somehow kepikiran aja dari dulu buat nulis ini.. Tapi baru kesempatan pas gua lagi di kereta beberapa waktu yang lalu..😀 Sayangnya bukan sambil nyoleh cha.. Lagunya juga gak sengaja gua denger juga waktu itu pas lagi ngobrol-ngobrol sama dia (oddly enough I can remember every detail of it).. Haha.. Kalo nyoleh mah malem-malem sambil pusing ngerjain PR..😀

      *Jadi pengen nyoleh.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: