News Ticker

Siapkah Anak Saya untuk Sekolah/Kuliah di Luar Negeri?

Topik: Pendidikan
Panjang: ± 3503 kata.
Waktu: ± 16 menit. 
TLDR: Kuliah/sekolah di luar negeri memang tampak menggiurkan dan berkilau, namun ada baiknya jika kita terlebih dahulu mengetahui segala resiko dan hasil yang mungkin dicapai dengan melakukan studi di luar negeri.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

In the name of Allah, the Most Beneficient, the Most Merciful

Tidak sedikit orang tua di Indonesia yang berharap bahwa anaknya akan pergi ke luar negeri sebagai siswa, dan pulang sebagai Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie. Dan hal ini sah-sah saja sebenarnya, karena memang kenyataan di lapangan berbicara bahwa tidak sedikit orang Indonesia yang bersekolah di luar negeri dan berhasil menjadi jagoan di bidang yang mereka tekuni  (serius, orang Indonesia punya potensi yang gak kalah dengan bule mana pun). Akan tetapi satu hal yang harus kita tahu adalah tidak selamanya dunia itu indah. Ada sisi gelap yang saat ini semakin banyak meliputi lingkungan pelajar Indonesia yang kuliah/sekolah di luar negeri.

Melalui tulisan ini penulis akan mencoba untuk berbagi tentang hal tersebut kepada para orang tua di Indonesia yang ingin menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Dan di akhir tulisan penulis juga akan mencoba untuk memberikan solusi yang bisa para orang tua terapkan ketika para orang tua ingin memberangkatkan anaknya untuk sekolah/kuliah di luar negeri. Perlu juga para pembaca ketahui bahwa sebagian besar contoh (atau malah semuanya) yang penulis berikan pada tulisan ini akan “berbau” Jerman. Hal ini semata-mata penulis lakukan karena Jerman merupakan tempat di mana penulis mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri. Namun demikian, dari berbagai laporan dari teman-teman di negara lainnya, penulis bisa mengatakan bahwa kemungkinan besar berbagai hal yang penulis tulis ini juga berlaku di berbagai negara lainnya (terutama Eropa).

Sisi Gelap Sekolah di Luar Negeri

Pada dasarnya gelap atau terang itu sendiri merupakan sebuah persepsi (tergantung dari bagaimana kita menyikapinya). Namun demikian akan penulis coba bagi beberapa hal yang menurut penulis bukan merupakan hasil yang diharapkan oleh sebagian besar orang tua yang mengirim anaknya untuk belajar di luar negeri.

1. Pulang tanpa “hasil”

Hal pertama yang perlu diketahui tentang sisi gelap kuliah di luar negeri adalah bahwa tidak semua yang berangkat ke luar negeri pulang dengan membawa hasil yang diharapkan. Sebagai contoh, baru 2 minggu lalu penulis mendapatkan kabar bahwa dari 100an orang (atau lebih, penulis kurang tahu angka jelasnya) yang berangkat untuk melanjutkan kuliah S1 ke Jerman dengan menggunakan satu agen pendidikan tertentu di Berlin, hanya kurang dari 10 persen yang berhasil mendapatkan tempat di Universitas/FH yang ada di Jerman. Sisanya? Harus menunggu kesempatan berikutnya, atau terpaksa “pulang habis” ke Indonesia.

Perlu para pembaca ketahui bahwa pemandangan melepaskan teman yang “pulang habis” tanpa menyelesaikan pendidikannya di luar negeri ini bukanlah merupakan sesuatu yang langka (penulis sendiri pun memiliki beberapa pengalaman pribadi mengenai ini). Dan perlu diketahui juga bahwa tidak sedikit mahasiswa Indonesia yang lulus kuliah di luar negeri dengan nilai dan pengetahuan yang pas-pasan, sehingga kesulitan untuk mencari pekerjaan di mana-mana (bahkan sulit untuk melanjutkan sekolah lagi). Karena itu, menurut penulis hal paling pertama yang harus diketahui oleh para orang tua yang mengirim anaknya untuk belajar ke luar negeri adalah:

Mengirimkan anak untuk kuliah/sekolah di luar negeri bukanlah merupakan sesuatu yang pasti berhasil. Pengalaman bahkan mengatakan bahwa lebih banyak pelajar Indonesia di luar negeri yang gagal daripada berhasil.

2. “Sekolah di luar negeri” berubah menjadi “liburan di luar negeri”

Hal ini sebenarnya tidak hanya terjadi di luar negeri, melainkan juga di Indonesia sendiri. Banyak pelajar Indonesia yang mengubah misinya dari belajar di luar negeri menjadi liburan di luar negeri. Alih-alih menggunakan uang yang dikirimkan oleh orang tuanya untuk belajar, mereka menghabiskan semua cadangan yang mereka punya untuk berlibur secara heboh di luar negeri. Dan yap, penulis tahu dengan pasti bahwa ada beberapa kasus di sekitar penulis di mana ada banyak pelajar yang menghabiskan waktu dengan berfoya-foya tanpa memperhatikan sedikit pun studinya.

3. Terlalu asik bekerja hingga melupakan studi

Sisi gelap yang satu ini biasanya terjadi pada para pelajar Indonesia yang ekonominya “ngepas”. Pada umumnya para pelajar Indonesia di luar negeri (khusunya di Jerman) yang ekonominya pas-pasan akan mencoba untuk mencari pekerjaan sambilan untuk menutupi kebutuhan hariannya. Akan tetapi sayangnya tidak semua pelajar Indonesia yang bekerja menyadari bahwa yang menjadi prioritas utama adalah sekolah, dan baru kemudian bekerja. Di samping itu hal ini diperparah dengan tidak sedikitnya jumlah uang yang bisa dihasilkan dengan bekerja sambilan. Sekedar gambaran, dengan bekerja sambilan di luar negeri, maka kita bisa menabung penghasilan kita untuk membeli gadget yang canggih atau liburan keliling negara (seriusan, bisa sebanyak itu). Efeknya apa? Akhirnya bekerja sambilan tidak lagi menjadi sebuah sambilan, dan studi menjadi sesuatu yang terlupakan.

4. “Pulang habis” karena masalah administrasi

Salah satu yang membedakan antara kuliah di luar dan di dalam negeri adalah masalah administrasi (terutama administrasi kependudukan). Jika dengan berkuliah di dalam negeri kita tidak perlu berurusan dengan ancaman kegagalan studi karena masalah ekstradisi, maka nyaris semua pelajar Indonesia yang kuliah di luar negeri harus berurusan dengan hal ini. Sebagai contoh, di Jerman seorang pelajar lulusan SMA hanya diberikan waktu 2 tahun (1 tahun untuk lulusan S1) semenjak kedatangan untuk bisa diterima di satu Universitas/FH yang ada di Jerman, dan 10 tahun untuk menyelesaikan pendidikan mereka di Jerman. Mungkin waktu 2 dan 10 tahun ini terdengar banyak, akan tetapi kenyataan di lapangan berkata bahwa tidak sedikit pelajar Indonesia di Jerman yang gagal memenuhinya, sehingga pada akhirnya mereka harus dipulangkan secara paksa. Dan penulis yakin bahwa hal ini juga terjadi di semua negara asing yang menjadi tujuan studi para pelajar Indonesia.

5. Menjadi “lebih bule daripada bule”

Hal terakhir yang ingin penulis bagikan tentang sisi gelap kuliah/sekolah di luar negeri adalah tentang masalah mentalitas kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya penulis adalah orang yang memandang bahwa adalah hak setiap orang untuk memilih apakah mereka akan merokok, minum minuman beralkohol, seks bebas, atau apa pun itu. Karena penulis berpendapat bahwa di akhir hari setiap orang akan mempertanggung-jawabkan semua yang dia lakukan. Akan tetapi beberapa peristiwa yang terjadi belakangan menyebabkan penulis merasa harus membagi ini kepada para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di luar negeri:

Salah satu hal yang paling menyedihkan dari para pelajar di Indonesia adalah tidak sedikit dari mereka yang bertingkah lebih bule daripada bule!

Okeh, lagi-lagi hal ini juga sebenarnya sudah banyak terjadi di Indonesia, dan pastinya banget tidak semua pelajar Indonesia di luar negeri melakukan ini. Akan tetapi belakangan penulis banyak mendapatkan cerita bahwa banyak pelajar Indonesia (terutama yang lulusan SMA dan akan/sedang lanjut S1) di luar negeri hidupnya “hancur” gara-gara menjadi lebih bule daripada bule, bersenang-senang tanpa batas, tinggal seatap yang tidak bertanggung jawab dengan lawan jenis, dan melakukan seks bebas yang benar-benar bebas.

Lagi-lagi pada akhirnya ini merupakan masalah preferensi dari tiap orang dan keluarga yang mengirim anaknya untuk sekolah di luar negeri. Tapi percayalah bahwa satu hal yang perlu orang tua ketahui adalah hal ini benar-benar terjadi dan berada tidak jauh dari kehidupan para pelajar Indonesia yang sedang bersekolah di luar negeri (dan penulis tidak melebih-lebihkannya).

Apa Saja Tantangan yang Akan Mereka Hadapi?

Layaknya tak ada asap tanpa api, begitu pula tak akan ada sisi gelap sekolah di luar negeri tanpa sesuatu yang menyebabkannya. Apa saja sih tantangan yang akan para pelajar hadapi ketika belajar di luar negeri? Berikut penulis cantumkan beberapa hal yang biasanya menjadi tantangan yang harus dilalui oleh para pelajar Indonesia di luar negeri.

Tantangan 1 – Perbedaan bahasa

Hal yang paling jelas dan pertama kali dihadapi adalah tentang perbedaan bahasa. Pastinya bersekolah di luar negeri akan menggunakan bahasa aktif yang berbeda dengan bahasa yang biasa digunakan di dalam negeri. Dan kesulitan di dalam bidang bahasa ini pastinya akan merembet ke mana-mana, dari sekedar kesuliatan untuk membeli bahan kebutuhan sehari-hari, sampai dengan urusan akademik dan administrasi kependudukan.

Tantangan 2 – Perbedaan sistem pendidikan

Yang selanjutnya pasti akan berbeda adalah sistem pendidikan yang diberlakukan di negara tujuan dan sistem pendidikan yang diberlakukan di Indonesia. Sebagai contoh, untuk melanjutkan kuliah S1 di Indonesia dibutuhkan ijazah setingkat SMA, sedangkan untuk melanjutkan kuliah S1 di Jerman para pelajar Indonesia harus terlebih dahulu mengambil Studienkolleg (semacam SMA kelas 4 dengan penjurusan tertentu) selama 1 tahun. Contoh berikutnya adalah tentang pengambilan studi master (S2) lintas jurusan. Di Indonesia kita bisa masuk ke program master yang berbeda dengan S1 kita dengan relatif mudah, sedangkan di Jerman suatu program master hanya bisa diambil dari jurusan yang telah ditentukan (dan itu benar-benar ketat prasyaratnya). Dan pastinya masih ada banyak lagi perbedaan sistem pendidikan (yang pastinya akan berbeda di setiap negara tujuan) yang harus dihadapi oleh setiap pelajar Indonesia yang ingin bersekolah di luar negeri.

Tantangan 3 – Masalah administrasi dan kependudukan

Seperti yang sudah penulis sampaikan sebelumnya, para pelajar Indonesia di luar negeri harus berhadapan dengan masalah administrasi dan kependudukan yang berlaku di negara masing-masing. Mungkin pada awalnya masalah ini akan terlihat mudah, semudah datang ke kantor kependudukan dan semuanya selesai. Akan tetapi jangan salah, karena pada kenyataannya tidak sedikit para pelajar indonesia yang gagal menyelesaikan misinya karena masalah administrasi ini. Dan ini adalah salah satu masalah yang selalu datang secara konsisten dari waktu ke waktu.

Sebagai contoh, di Jerman setiap pelajar harus menyertakan bukti keuangan (yang besarnya berbeda-beda di setiap kota) untuk mengurus izin tinggal. Pada dasarnya masalah ini akan mudah teratasi jika ekonomi kita ada di atas rata-rata ataupun ketika kita mendapatkan beasiswa. Akan tetapi akan diperlukan usaha lebih bagi orang-orang yang memiliki tingkat ekonomi yang ngepas, sehingga mereka harus melakukan beberapa penyesuaian dan usaha lebih untuk memenuhi persyaratan tersebut. Dan bisa ditebak bahwa masalah administrasi bukti keuangan ini akan berujung kepada berkurangnya waktu yang bisa mereka alokasikan untuk mengurus studinya.

Tantangan 4 – Perbedaan budaya

Seakan-akan tidak cukup hanya tantangan di bidang studi dan formalitas yang datang, para pelajar Indonesia yang ada di luar negeri juga harus berurusan dengan tantangan di bidang budaya. Efek dari masalah di bidang budaya ini pun bisa bermacam-macam, dari masalah sulit mencari pekerjaan sambilan atau kamar, sampai dengan “menjadi lebih bule daripada bule” (seperti yang sudah penulis bahas sebelumnya). Dan tanpa ingin masuk ke dalam zona rasisme dan agama, para orang tua harus tahu bahwa yang kemungkinan paling banyak mengalami shock di dalam hal ini adalah para pelajar muslim yang belajar di luar negeri. Kenapa? Karena kecuali kita bersekolah di negara yang penduduknya sama-sama mayoritas muslim, maka hampir pasti keadaan akan jauh berbeda dengan kondisi yang ada di Indonesia. Banyak hal yang harus disesuaikan dan untuk para pelajar muslim, mulai dari mencari sumber makanan yang halal, mencari tempat sholat, sampai dengan berbaur dengan teman-teman dari negara lainnya tanpa kehilangan jati diri.

Tantangan 5 – Perbedaan iklim dan cuaca

Tantangan berikutnya yang biasanya dihadapi adalah perbedaan iklim dan cuaca. Ketika para pelajar Indonesia belajar ke luar negeri, ada kemungkinan bahwa mereka akan berada di tempat yang mengalami 4 musim. Dan sebegaimana berbagai hal lainnya yang di dunia, tidak semua negara 4 musim ini diciptakan sama. Spanyol akan relatif lebih hangat daripada Jerman, Jerman akan relatif lebih hangat daripada negara-negara Skandinavia dan Rusia, dan lain sebagainya. Akan tetapi sebagai gambaran betapa berbedanya musim di Indonesia dan di negara 4 musim adalah seperti ini: ingat AC (Air Conditioner)? Biasanya suhu terendah dari AC rumahan adalah 18 derajat. Dan di Jerman bagian barat, suhu rata-rata dalam setahun kira-kira akan berkisar di bawah 18 derajat (musim dingin biasanya selalu 1 digit).

Lagi-lagi tidak semua pelajar Indonesia akan mengalami shock iklim dan cuaca, karena pastinya sensitivitas tiap orang akan berbeda-beda. Akan tetapi yakinlah bahwa sebagian besar orang Indonesia yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya akan relatif kaget ketika musim dingin tiba (terutama bagi mereka yang baru datang pada saat musim dingin).

Tantangan 6 – Masalah finansial

Masalah finansial adalah sebuah masalah yang tidak bisa dipungkiri ada di sekitar pelajar Indonesia yang ada di luar negeri. Mulai dari habisnya tabungan yang dimiliki oleh para pelajar, berhentinya kiriman dari rumah karena masalah ekonomi yang timbul mendadak, sampai telatnya uang bulanan untuk para penerima beasiswa. Yup, bahkan untuk para penerima beasiswa (beberapa beasiswa tertentu terkenal sering telat memberikan uang bulanan), menyedihkan bukan?

Tantangan 7 – Homesick / rindu kampung halaman

Penulis ingat betul bahwa salah satu hal yang diucapkan oleh salah seorang teman penulis yang lebih dahulu sampai ke Jerman kepada penulis:

Awalnya semua akan seru ketika lo baru sampe ke Jerman, tapi selang beberapa lama lo akan merindukan semua yang ada di Indonesia. Bahkan lo akan merindukan suara ketokan garpu ke botol dari tukang ketoprak yang lewat di deket rumah lo.

Terbiasa tumbuh dengan kondisi jauh dari rumah semenjak SMA (rumah di Bekasi, SMA asrama di Tangerang, dan kuliah di Bandung) membuat penulis semacam meremehkan perkataan ini pada awalnya, akan tetapi ternyata hal ini benar-benar terjadi. Hm, gak segitu langsungnya juga sih dalam kasus penulis, kerinduan akan kampung halaman baru terjadi setelah hampir setahun penulis tinggal di Jerman. Mau pulang tapi tidak uang tidak mencukupi, kalau pun suatu ketika ada dana, waktunya yang tidak memungkinkan. Well, akhirnya penulis pun harus mengamini apa yang dahulu teman penulis katakan. Dan ini, adalah salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh setiap perantau Indonesia yang berada jauh dari kampung halaman.

Siapkah anak anda?

Setelah mengetahui apa saja sisi gelap dari sekolah di luar negeri dan tantangan apa saja yang dihadapi para pelajar Indonesia di luar negeri, maka sekarang waktunya bagi anda (para orang tua) untuk mengevaluasi secara jujur mengenai apakah anak anda sudah benar-benar siap untuk kuliah ke luar negeri. Bagaimana cara mengevaluasinya? Berikut beberapa hal yang bisa anda jadikan checklist untuk mengevaluasi kesiapan anak anda kuliah di luar negeri.

1. Anak andakah yang mau untuk bersekolah di luar negeri? Atau anda?

Hal yang pertama kali perlu anda pastikan adalah tentang kemauan untuk bersekolah di luar negeri. Apakah ini kemauan anda? Atau murni kemauan anak anda? Tanyakan hal ini dengan jujur kepada diri anda dan anak anda tentang siapa yang sebenarnya mau untuk bersekolah di luar negeri. Jika hal bersekolah di luar negeri memang keinginan dari dia, silakan anda dukung. Tapi jika ini murni obsesi dari anda pribadi dan anda tetap memaksakan untuk anak anda berangkat, jangan pernah anda berani untuk menyalahkan anak anda jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepadanya di kemudian hari.

2. Cukupkah nilai/performa akademiknya?

Yang selanjutnya harus dilihat adalah tentang performa akademik anak anda. Pastikan anak anda memiliki performa akademik yang mencukupi untuk melanjutkan studi di luar negeri. Setiap negara memiliki definisi tersendiri mengenai apakah performa akademik dari seseorang cukup atau tidak untuk melanjutkan studi di tingkatan yang lebih tinggi. Karena itu, jangan sampai anda menghabiskan banyak waktu dan sumber daya hanya untuk menemukan fakta bahwa anak anda memiliki performa akademik yang berada di bawah garis minimal yang telah mereka tentukan.

3. Seberapa siapkah kemampuan berbahasanya?

Pastikan bahwa anak anda memiliki kemampuan berbahasa asing yang cukup sebelum berangkat untuk sekolah ke luar negeri, karena hal inilah tantangan pertama yang akan mereka hadapi sesampainya mereka berada di negara tujuan (atau bahkan di perjalanan). Di samping itu kemampuan berbahasa asing yang bagus juga akan membantu anak anda untuk menyerap pelajaran yang disampaikan di dalam kelas, dan pastinya juga di dalam banyak hal lainnya.

4. Kematangan mental

Ingat berbagai tantangan yang akan mereka hadapi pada saat belajar di luar negeri? Salah satu hal yang pasti dari kesemua tantangan itu adalah semua pelajar perantau pasti akan mengalaminya (meskipun dengan kadar yang berbeda-beda). Dan yang paling menarik dari ke semua tantangan ini adalah mereka datang tanpa meminta izin terlebih dahulu. Bisa jadi mereka datang satu per satu tanpa atau pun dengan jeda, akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa semuanya datang secara bersamaan di saat yang benar-benar salah.

Hal positif dari tantangan ini adalah jika anak anda memiliki kesiapan mental yang cukup untuk mengatasi ini semua, maka anak anda akan menjadi seseorang yang lebih kuat dari sebelumnya. Akan tetapi jika tidak, maka tidak menutup kemungkinan bahwa anak anda akan jatuh ke dalam sisi gelap sekolah di luar negeri yang sudah penulis katakan sebelumnya. Jadi pastikan anak anda berangkat sekolah ke luar negeri dengan mental yang cukup agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Saran

1. Pastikan semua evaluasi kesiapan menunjukkan hasil yang positif

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari menyekolahkan anak di luar negeri, maka pastikan bahwa semua evaluasi di atas menunjukkan hasil yang positif. Mungkin akan terdengar ribet, akan tetapi kenyataan di lapangan di lapangan menunjukkan bahwa hanya pelajar yang memang siap, fokus dan berdedikasilah yang akhirnya bisa mencapai target yang ditetapkan sebelum keberangkatan ke luar negeri.

2. Ajarkan mereka tentang kemampuan bertahan hidup

Ajarkan anak anda tentang kemampuan bertahan hidup pada saat keberangkatan. Hal-hal kecil seperti pelajaran memasak praktis, hidup sehat, mencuci dan merapihkan pakaian, merapihkan ruang kerja dan dokumen-dokumen penting, kemampuan surat menyurat, menyelesaikan masalah, serta lain sebagainya akan membuat perbedaan yang besar (bahkan mungkin lebih besar daripada yang anda bayangkan) pada saat mereka menimba ilmu di luar negeri.

3. Berikan “mentah”nya, tapi biarkan mereka melakukan semuanya secara mandiri

Salah satu cara untuk mengetes apakah anak anda sudah siap mental untuk kuliah di luar negeri adalah dengan menyuruh mereka untuk mengurus semua kepergiannya sendiri. Yup! Semuanya. Sendiri. Mungkin anda akan berkata bahwa mereka baru lulus SMA, bla bla bla, akan tetapi pada kenyataannya sebagian besar pelajar tangguh yang penulis kenal sukses bertahan di Jerman adalah mereka yang berangkat ke sini dengan mengurus semuanya sendiri. Dan yap, mereka ke datang ke luar negeri langsung setelah lulus SMA.

Kenapa menurut penulis adalah penting bagi sang anak untuk mengurus semuanya sendiri? Karena penulis yakin bahwa:

  1. Dengan mengurus semuanya sendiri, maka sang anak akan mengetahui dengan pasti proses apa saja yang harus mereka lalui untuk sampai ke bangku kuliah. Sehingga ketika suatu saat nanti ada masalah tentang studi atau administrasi (dan hampir pasti akan ada), maka mereka akan siap menghadapinya.
  2. Dengan mengurus semuanya sendiri, maka sang anak akan mengetahui bahwa mereka belajar ke luar negeri dengan melalui proses, dan bukan dengan ongkang-ongkang kaki semata. Dengan demikian mereka akan lebih menghargai apa yang mereka punya, dan akan relatif lebih bertanggung jawab terhadap studinya.
  3. Tidak selamanya agen akan selalu siap sedia membantu anak kita ketika di sana. Akan ada saatnya mereka harus mengurus semuanya sendiri.
  4. Biasanya agen pendidikan membutuhkan biaya yang relatif besar.
  5. Jaman ini berbeda dengan masa lalu. Saat ini hampir semua hal bisa kita dapatkan melalui internet. Pertanyaannya hanya satu: mau atau tidak.
  6. Mengurus semuanya sendiri tidak semenyeramkan itu.

Jadi pastikan bahwa sebisa mungkin anak anda mengurus semuanya sendiri (termasuk di antaranya mengurus pasport, visa, akomodasi, transportasi, dan lain sebagainya).

4. Silakan gunakan agen, tapi..

Pengalaman yang penulis miliki berkata bahwa sebagus apa pun penulis berusaha untuk meyakinkan para orang tua bahwa kuliah tanpa agen di luar negeri itu mungkin dan tidak semenyeramkan itu, akan selalu ada orang tua yang pada akhirnya akan tetap menggunakan agen pendidikan ke luar negeri (dan itu adalah hak mereka). Karena itu penulis akan memberikan beberapa hal singkat tentang apa saja yang harus diperhatikan oleh orang tua yang memutuskan untuk memberangkatkan anaknya dengan menggunakan jasa agen:

  1. Pastikan agen yang anda pakai tidak memiliki reputasi yang buruk, dan memiliki rekam jejak yang jelas.
    Agen pendidikan ke luar negeri yang bagus pastinya tidak sedikit, akan tetapi tidak sedikit pula para agen studi ke luar negeri yang menetapkan harga yang tidak rasional dan hanya berniat menjadikan anda sebagai sumber ATM mereka. Anda bisa mengecek tentang reputasi yang mereka miliki dari berbagai forum yang ada di internet, dari para alumni agen tersebut (secara langsung, dan bukan testimoni), atau pun dari para orang Indonesia yang tinggal di negara tujuan studi agen tersebut (biasanya rumor tentang hal ini cepat menyebar).
  2. Pastikan anda tahu pasti setiap proses yang harus anak anda lalui untuk memulai dan juga selama studinya di luar negeri.
    Memang salah satu fungsi menggunakan agen adalah biar kita tidak usah pusing memikirikan ini itu pada saat mendaftar, akan tetapi kemungkinan sesuatu yang buruk terjadi tetap akan ada. Karena itulah anda harus memastikan bahwa anda siap mengambil alih ketika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
  3. Pastikan surat perjanjian anda dengan agen lengkap, memiliki kekuatan hukum, dan mencantumkan tarif yang jelas untuk setiap jasanya.
  4. Menggunakan jasa agen bukanlah suatu jalan singkat yang benar-benar singkat.

5. Kuliah di Indonesia gak sejelek itu juga kok!

Yang terakhir, teruntuk para pembaca yang merasa bahwa sistem pendidikan di Indonesia tidak bisa diandalkan, penulis ingin mengatakan bahwa di satu sisi itu ada benarnya. Namun demikian, berdasarkan pengalaman pribadi penulis, kuliah di Indonesia gak sejelek itu juga kok (contoh kasus di Teknik Elektro ITB). Malahan penulis mendapati fakta bahwa yang diajarkan di kuliah S1 dulu sama saja dengan yang diajarkan di luar negeri. Kalau pun ada perbedaan, itu ada di dalam hal kelengkapan laboratorium, dan kematangan hubungan industri-kampus-pemerintah yang ada di tanah air. Dan sebagai informasi, hal itu tidak akan berpengaruh banyak untuk mahasiswa S1 (terutama untuk yang mengambil jalur yang sama dengan yang penulis ambil).

Jadi teruntuk para orang tua yang ternyata karena cheklist kesiapan tadi memberikan hasil yang negatif (atau karena apa pun) tidak bisa menyekolahkan anak anda S1 di luar negeri, jangan khawatir. Anak anda tetap punya kesempatan yang sama dengan mereka yang kuliah S1 di luar negeri. Dan menurut penulis adalah sesuatu yang naif kalau kita berpikir bahwa kualitas lulusan S1 di Indonesia akan pasti tertinggal jauh dari lulusan S1 di luar negeri. Karena:

  1. Semuanya kembali ke masing-masing individu yang menjalani, dan
  2. Kenyataannya memang tidak begitu.

Penutup

Memberangkatkan anak untuk kuliah/sekolah ke luar negeri merupakan salah satu pilihan yang populer di dalam bidang pendidikan. Akan tetapi apakah hal tersebut merupakan pilihan yang tepat? Pada akhirnya tidak akan ada satu jawaban yang benar untuk hal ini. Semuanya tergantung ke dalam preferensi masing-masing individu, dan keadaan yang berlaku. Semoga tulisan ini bisa membantu para orang tua sekalian untuk mengevaluasi tepat atau tidaknya hal tersebut.

About wahidyankf (178 Articles)
Computer Engineer. His life-motto is "Learning, Dreaming, and Enjoying life".

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: