News Ticker

Witch Hunting dan Menulis Online

Topik: Sosial
Panjang: ± 1700 kata.
Waktu: ± 8 menit. 
TLDR: Tulislah artikel pembelajaran kasus dengan berfokus kepada pelajaran yang ingin disampaikan, dan bukan pada penghakiman.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

In the name of Allah, the Most Beneficient, the Most Merciful

Artikel ini bermula ketika salah satu anggota dari grup WhatsApp yang saya ikuti mengirimkan satu artikel yang cukup menarik untuk dibahas di grup. Di artikel yang dilampirkan pada grup tersebut tertulis sebuah pandangan sang penulis artikel terhadap salah seorang yang dia sebut sebagai artis vlog (jurnal video online). Dan dengan gaya penulisan yang dituangkan dalam gaya yang disesuaikan untuk pembaca muda tersebut sang penulis membahas tentang apa yang salah terhadap si artis ini dengan tak lupa menyebutkan nama aslinya, serta berbagai video dan data-data sang artis. Tak lupa juga tertulis di dalam artikel tersebut berbagai kata-kata penuh penghakiman terhadap sang artis.

Singkat cerita, membaca artikel tersebut saya menyadari ada beberapa bagian yang mungkin ada benarnya, di antaranya tentang bagaimana sang artis yang notabene masih berusia remaja ini gemar memamerkan kemesraan dengan sang pasangan dan bagaimana sang artis ini pada akhirnya “tersandung” dan menangis di dalam salah satu video yang dia unggah online. Akan tetapi benarkah cara sang penulis menyampaikan sesuatu yang dia anggap sebagai pembelajaran massa tersebut? Entah kenapa batin saya berontak melihat hal ini. Batin saya merasa terganggu dengan kegiatan witch hunting ini, dan artikel ini khusus saya tulis untuk menjelaskan kenapa.

Berkenalan dengan witch hunting

Witch Hunting atau yang dalam bahasa Indonesia berarti perburuan penyihir merupakan sebuah istilah yang biasa dipakai di beberapa forum online luar negeri seperti reddit untuk sebuah kegiatan menjelekkan seseorang yang dianggap sebagai orang jahat atau tidak baik. Kenapa pencemaran nama baik ini disebut dengan istilah witch hunting? Hal ini dikarenakan sejarah mencatat ada banyak perburuan penyihir di masa lalu (seperti yang dilangsir oleh wikipedia), di mana penyihir ini biasanya dianggap sebagai pembawa petaka dan sial yang harus dihukum dan dilenyapkan. Dan pada kasus penggunaan internet, tidak jarang kegiatan witch hunting ini diakhiri dengan proses penghakiman massal oleh peserta/pembaca thread (bagian kecil dari forum tempat artikel atau topik tersebut ditulis/dikemukakan) tersebut.

Mengapa witch hunting biasanya dilarang

Pertanyaan yang mungkin terpikirkan dari witch hunting ini adalah bagaimana jika memang orang yang kita tuduh sebagai penjahat tersebut adalah benar adanya jahat. Secara logika memang selalu ada kemungkinan bahwa seseorang itu memang bersalah, namun ada beberapa poin yang harus kita ingat tentang hal ini:

1. Mungkin dia tidak bersalah.

Seperti halnya adanya kemungkinan bahwa dia tidak bersalah, maka kita harus menyadari juga bahwa ada pula kemungkinan bahwa si tertuduh itu tidak bersalah. Hidup ini selalu 2 arah, ada 0 ada 1, ada ke depan ada ke belakang, begitu pula ada bersalah dan ada tidak bersalah. Bersikap bijaklah di dalam menghadapi 2 kemungkinan ini, karena kita sendiri tidak akan pernah mau kalau ada orang lain yang menghakimi kita dengan semena-mena padahal kita tidak bersalah bukan?

2. Negara ini dan sebagian besar negara lainnya adalah negara yang berdasarkan hukum.

Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sebagian besar negara lainnya adalah negara yang berdasarkan hukum. Artinya, jika seseorang belum divonis oleh hukum dengan pasti, maka selalu ada kemungkinan bahwa orang yang kita tuduh tersebut tidak bersalah. Dan meskipun si orang tersebut telah divonis oleh hukum, maka tetap ada kemungkinan bahwa sang tertuduh itu sebenarnya tidak bersalah. Kenapa? Karena pada dasarnya pengadilan tidak pernah akan bisa tahu 100 persen kejadian yang sebenarnya, yang bisa mereka lakukan adalah mengumpulkan kepingan-kepingan barang bukti dan memutus ke arah mana suatu kasus condong. Sebagai gambaran, bayangkan satu set puzzle dengan beberapa kepingan yang hilang, kita tidak akan pernah tahu dengan pasti apa sebenarnya bentuk akhir dari puzzle tersebut. Yang bisa kita tahu hanyalah apa kira-kira bentuk akhir dari puzzle tersebut.

3. Mungkin bukan urusan kita jika memang dia benar bersalah.

Yang harus kita camkan berikutnya adalah mungkin hal tersebut bukan urusan kita. Salahkah dia? Benarkah dia? Mungkin bukan urusan kita. Mungkin kita tidak pernah mengenal dia secara langsung, mungkin dia tidak pernah berbuat jahat kepada kita, mungkin juga kita tidak pernah akan sekali pun bertemu dia di dalam hidup kita. Lalu kenapa kita harus menghabiskan waktu dan melakukan hal yang negatif dengan menjelekkan dia? Tidakkah ini salah satu bentuk membuang-buang waktu?

4. Tidaklah enak rasanya jika kesalahan kita dibuka di depan orang banyak.

Pernahkah kita merasakan dibuka aibnya di depan orang banyak? Terlepas dari benar salah yang kita lakukan, tidak enak bukan rasanya? Dan kalau memang tidak enak, apa hak kita untuk melakukan itu kepada orang lain? Apakah kita polisi moral? Apakah kita sangat suci sehingga kita bisa melakukan itu? Kalau pun dia bersalah secara hukum, seharusnya dia sudah mendapatkan hukuman bukan? Mungkin hal ini bisa dimaklumi jikalau kita adalah korban langsung, akan tetapi kalau bukan, siapakah kita untuk berbuat seperti itu?

Apa yang salah dengan artikel tersebut

Kembali lagi ke artikel tersebut, artikel tersebut pada dasarnya adalah melakukan witch hunting. Kenapa? Karena artikel tersebut menyertakan data pribadi sang artis. Tidaklah susah untuk kita mencari tahu tentang seseorang di mesin pencari dengan memasukkan nama lengkap, tahun lahir, dan nama akun bukan?

Di samping itu, artikel tersebut juga terlihat sangat memojokkan sang tertuduh dengan kata-kata yang menurut saya terlalu kasar untuk sebuah artikel yang bermaksud menjadikan suatu kasus menjadi pelajaran, seperti:

Tapi pasti susah ‘kan, X, menjalankan hal di atas? Pasti masih kepengen di-liked dan mendapat puja-puji di medsos ‘kan? There you go.

atau

Biasanya, kalau ada “bad girl” sedang kena kasus atau ketiban musibah, dia akan menganggap hal tersebut sebagai ujian dari Tuhan, dan yakin bahwa pihak-pihak yang menjatuhkannya akan kena karma.
Duile, Tuhan malah ketawa ‘kali dengar anggapan gitu! Mungkin Tuhan akan bilang, “Kamu masuk ‘sekolah’ saya aja nggak pernah! Kenapa merasa kamu lagi ikut ujian’? GR aja saya mau nguji.”

Saya memahami bahwa adalah baik sebenarnya ketika suatu tulisan bermaksud untuk menjadikan sebuah kasus menjadi pelajaran positif, akan tetapi perlu kiranya memilih kata-kata yang tidak memojokkan secara vulgar dan terlalu menghakimi.

Saat artikel ini ditulis, saya sedang berusia mendekati kepala 3, dan masih teringat jelas masanya ketika saya menjadi alay. Alay atau yang juga dikenal dengan istilah labil, adalah masa yang meledak-ledak dan penuh dengan keputusan yang kalau saya pikir kembali dengan otak saya saat ini sangat memalukan dan penuh dengan momen “apa sih lo Yok? lebay deh!“. Dan saya sangat beruntung, karena saat itu saat itu sebagian besar alay saya ada di blog, dan bisa saya hapus tanpa orang lain pernah tahu. Hal ini kontras berbeda dengan sang artis tersebut yang masa labilnya disoroti oleh banyak orang. Saya hanya lebih beruntung.

Selain itu, setelah saya melihat video tentang artis tersebut, saya menyadari bahwa sebenarnya sang artis tersebut bukanlah sepenuhnya “penyihir” seperti yang dibicarakan oleh orang-orang. Sang artis sebelumnya tinggal di sebuah kepulauan yang ada di Indonesia (sempat mendapatkan nilai tertinggi juga kabarnya di sana) sebelum akhirnya pindah ke Jakarta. Pertanyaannya adalah:

Berapa orangkah dari kita yang pernah berpindah tempat tinggal di usia muda di pulau yang berbeda?

Berhubung saya tidak lagi tinggal serumah dengan kedua orang tua saya dari SMA (meskipun tidak beda pulau), saya bisa ikut merasakan beratnya memulai sesuatu dari awal lagi, mencari teman, dan lain sebagainya. Hal tersebut tidaklah muda, bahkan bagi orang dewasa sekalipun.

Jika kita mau berpikir lebih dalam, untuk kasus berpindah lingkungan, tidak semua orang bisa melewatinya dengan mulus. Setiap orang menjalani kehidupan dengan kondisi dan kematangan yang berbeda-beda, ada yang tinggal di tengah lingkungan yang sangat supportif, ada juga yang tinggal di lingkungan yang sangat tidak mendukung. Saya pribadi mengenal beberapa orang yang tinggal di lingkungan yang jauh dari kata ideal, dan tekanan membuat mereka melakukan hal yang cenderung di luar normal. Pun demikian hal tersebut tidak membuat saya lantas menghakimi orang tersebut, karena saya pribadi belum tentu bisa membuat keputusan yang lebih rasional di jika berada di posisi mereka. Maka dari itu, tidaklah bijak jika kita menghakimi orang lain dengan standar yang kita tentukan sendiri, karena kita tidak akan pernah sepenuhnya tahu apa yang sebenarnya mereka jalani.

Kembali lagi ke sang artis, kita tidaklah memiliki hak untuk menghakimi dia secara vulgar di kasus ini, dan kita tidak akan pernah memiliki hak untuk itu. Karena pada dasarnya setiap orang memiliki jalan yang berbeda-beda, dan melihat ke belakang, jelas terlihat bahwa masa-masa alay saya (dan juga semua orang) adalah jalan terbaik yang pada dasarnya telah digariskan oleh Allah. Masa-masa alay tersebut mungkin tidak akan terlihat indah saat berlangsung, akan tetapi bisa saja masa-masa tersebut menjadi pondasi yang kokoh bagi tiap pribadi untuk bersikap dan menjalani hidup di masa depan. Jadi siapa kita untuk menghakimi orang dengan berlebihan?

Lalu bagaimana?

Kemudian bagaimana seharusnya kita bersikap jikalau kita menginginkan untuk sang tertuduh tersebut untuk bertanggung jawab, berubah, atau agar orang lain mengambil pelajaran dari kasus tersebut? Adakah cara yang memang aman? Jelas ada, kita bisa mempertimbangkan beberapa hal di bawah ini:

1. Ambillah langkah hukum

Jika kita ingin sang tertuduh untuk bertanggung jawab dan kita adalah korbannya, maka kita bisa membicarakan secara baik-baik dengan orang tersebut atau mengambil langkah hukum. Karena seperti yang sebelumnya telah disampaikan, negara ini adalah negara yang berdasarkan hukum, dan main hakim sendiri bukanlah sebuah pilihan di negara yang berlandaskan hukum.

2. Bicarakanlah baik-baik dengan yang bersangkutan

Jika kita ingin sang tertuduh untuk berubah, maka bicarakanlah secara baik-baik dengan dia. Pada dasarnya, jika kita benar-benar peduli dengan dia maka kita akan mempertimbangkan bentuk pemberian masukan mana yang paling efektif. Dan menurut logika, bentuk penyampaian manakah yang paling efektif? Mempermalukan di depan publik? Atau membicarakan baik-baik secara privat?

3. Sampaikanlah pelajaran dengan cara yang sehalus dan sebaik mungkin

Jika kita ingin orang lain untuk memberikan pelajaran, maka sampaikanlah dengan cara yang sehalus dan sesopan mungkin. Bayangkanlah jika diri kita ada di posisi orang yang dijadikan contoh buruk, akankah kita merasa enak dan legawa mendengar semua itu? Bukankah masih banyak cara untuk menyampaikan pelajaran dengan tidak menyakiti seseorang?🙂

Penutup

Akhir kata, melakukan witch hunting bukanlah sesuatu yang elok untuk kita lakukan, karena pada dasarnya kegiatan witch hunting ini memiliki lebih banyak keburukan dari pada kebaikan. Di samping itu, jika kita ingin menulis sebuah kasus untuk menyampaikan sebuah pelajaran, maka tulislah dengan cara yang elegan, halus, dan sebisa mungkin merahasiakan identitas orang yang kita jadikan contoh buruk. Karena selalu ada kemungkinan bahwa orang tersebut tidak melakukan kesalahan seperti yang kita duga. Pengecualian mungkin bisa dilakukan untuk kasus-kasus yang telah terbukti secara hukum, pun demikian, akan lebih indah jika sebuah tulisan fokus untuk menyampaikan tentang pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kasus tersebut. Karena pada akhirnya bukanlah menghakimi orang tersebut yang sebenarnya ingin kita lakukan, akan tetapi menyampaikan sebuah pelajaran yang mungkin berharga.

Dan Allah lah yang Maha Mengetahui – والله أعلم

About wahidyankf (178 Articles)
Computer Engineer. His life-motto is "Learning, Dreaming, and Enjoying life".

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: