News Ticker

Mendidik Anak Jago Bahasa: Membesarkan Anak dalam 2 Bahasa Sekaligus

Topik: Belajar
Panjang: ± 1027 kata.
Waktu: ± 5 menit. 
TLDR: Mengajarkan dan membesarkan anak sehingga memiliki 2 bahasa ibu sekaligus adalah hal yang mungkin.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

In the name of Allah, the Most Beneficient, the Most Merciful

Tidak sedikit orang tua di dunia ini yang menginginkan agar anaknya bisa bertutur kata dengan menggunakan lebih dari satu bahasa. Entah itu perpaduan antara bahasa Indonesia dengan berbagai bahasa asing (bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan lain sebagainya), ataupun perpaduan antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah (bahasa Sunda, Jawa, Padang, Makassar, dan lain sebagainya). Tidak sedikit pula Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal jauh dari tanah air yang khawatir kalau anaknya tidak bisa bahasa setempat atau bahasa Indonesia. Melalui tulisan ini, saya akan mencoba untuk membagikan pengalaman yang saya dapatkan dari teman saya ketika les bahasa Jerman di Aachen tentang bagaimana menjadikan anak kita bisa fasih di lebih dari satu bahasa (dan juga mendapatkan aksen bahasa tersebut).

Elisa Si Penutur 4 Bahasa

Izinkanlah saya untuk memperkenalkan Elisa, salah seorang teman saya di kelas persiapan ujian DSH (salah satu ujian sertifikasi bahasa Jerman) yang diselenggarakan oleh VHS Aachen. Elisa adalah seorang perempuan berkebangsaan Italia yang berdarah campuran. Ibunya adalah seorang wanita berkebangsaan Italia, sedangkan ayahnya adalah seorang pria berkebangsaan Polandia. Menurut saya pribadi, ada hal yang sangat menarik dari Elisa: dia bisa menuturkan 4 bahasa secara fasih (Italia, Polandia, Inggris, dan Jerman)! Dan tidak hanya itu, Elisa merupakan salah satu siswa yang terpintar di kelas bahasa Jerman saya waktu itu. Mungkin relatif normal yah kalau ada orang yang bisa menuturkan 2 atau 3 bahasa, tapi ini 4! Seru banget gak sih? :D

Sebenarnya saya sendiri bukan termasuk tipe orang yang senang untuk belajar bahasa, tapi jujur saya jadi penasaran untuk bertanya kepada Elisa tentang rahasia yang dia miliki sampai dia bisa menuturkan banyak bahasa sekaligus. Untungnya, belum sempat saya bertanya kepada Elisa tentang hal tersebut, guru kelas bahasa saya sudah mendahului saya bertanya kepada dia  (lucky me! :D). Dan berdasarkan percakapan Elisa dengan Frau Birgit (guru bahasa saya tersebut), ini dia rahasianya:

  1. Semenjak masih anak-anak Elisa dibiasakan oleh kedua orang tuanya untuk berbicara dengan 2 bahasa (bahasa Polandia dan bahasa Italia). Adapun bahasa Polandia dan bahasa Italia ini adalah bahasa ibu dari ayah dan ibu Elisa.
  2. Bagaimana sistem pengajaran ini berjalan? Ternyata caranya relatif mudah: kedua orang tua Elisa hanya menggunakan bahasa ibu mereka masing-masing untuk berkomunikasi dengan Elisa. Begitu juga dengan Elisa, dia hanya diizinkan untuk berkomunikasi dengan kedua orang tuanya dalam bahasa ibu dari kedua orang tuanya: bahasa Italia untuk berkomunikasi dengan ibunya, dan bahasa Polandia untuk berkomunikasi dengan bapaknya.

Terdengar simpel kan? Yup! Simpel, tapi jawaban dari Elisa ini menimbulkan beberapa pertanyaan lanjutan dari saya:

  1. Memangnya tidak tertukar antara bahasa satu dengan yang lainnya?
  2. Memangnya anak kecil bisa mengerti itu?

guten Fragen! (itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang bagus)”, kata Elisa. Kemudian Elisa pun menjawab seperti ini:

  1. Menurut pengalaman Elisa, pada awalnya dia sulit untuk berkomunikasi dengan menggunakan 2 bahasa sekaligus, dan 2 bahasa itu pun sering tercampur aduk. Tapi pada akhirnya dia bisa membedakan dan memisahkan antara bahasa yang satu dengan yang lainnya seiring dengan berjalannya waktu.
  2. Bisa, karena cara belajar bahasa pada anak kecil berbeda dengan cara belajar bahasa pada orang dewasa. Anak kecil belajar bahasa dengan menggunakan intuisi berbahasa, sedangkan orang dewasa pada umumnya belajar bahasa dengan menggunakan sintaks dan aturan-aturan tata bahasa. Singkat kata, belajar bahasa bagi seorang anak kecil ibarat belajar bermain sepak bola dengan menendang bola terlebih dahulu bola di lapangan, baru kemudian belajar satu per satu peraturan resmi dari sebuah permainan bola. Sedangkan belajar bahasa bagi seorang dewasa ibarat belajar bermain sepak bola dengan terlebih dahulu memahami semua peraturan pertandingan sepak bola, baru kemudian menendang bolanya di lapangan. Dan perlu kita ingat bahwasanya orang dewasa “kehilangan” kemampuan belajar bahasa secara intuitif seperti yang bisa dan biasa dilakukan oleh anak kecil.

Saya pun hanya bisa mengangguk-angguk. Akan tetapi saat itu saya masih punya pertanyaan tentang bagaimana dengan 2 bahasa lainnya yang juga dia kuasai (bahasa Jerman dan Inggris). Menariknya, Elisa berkata bahwa mempelajari bahasa yang ke 3 relatif mudah baginya. Pun juga, dia merasa bahwa belajar bahasa yang ke 4 lebih mudah dia pelajari jika dibandingkan dengan belajar bahasa asing yang ke 3. Hal ini menunjukkan bahwa otak kita akan beradaptasi menjadi lebih baik di dalam belajar bahasa untuk setiap bahasa yang berhasil kita pelajari.

Lebih Lanjut Tentang Membesarkan Anak dengan 2 Bahasa

Oia, belakangan saya juga mendapati fakta lainnya yang menguatkan fakta yang saya dapati dari kasus Elisa. Saya mendapati kenyataan bahwa guru-guru sekolah yang ada di Jerman “melarang” para orang tua murid yang keturunan untuk berbicara dengan anaknya dengan bahasa Jerman. Para guru tersebut mengatakan bahwa menurut pengalaman mereka, berbicara dengan bahasa Jerman di rumah (untuk warga keturunan) akan lebih banyak rugi dari pada untungnya. Apa saja sebenarnya kerugiannya menurut para guru tersebut?

  1. Sang anak akan kehilangan kesempatan untuk menjadi penutur asli dari 2 bahasa atau lebih.
    Hal ini terjadi karena sang anak hanya diperkenalkan dengan bahasa yang diajarkan di sekolah (hanya bahasa Jerman untuk kasus ini).
  2. Sang anak akan mendapatkan aksen bahasa asing yang tidak “seharusnya”.
    Dengan “keikutsertaan” sang orang tua berbicara bahasa asing di rumah, maka sang anak akan menganggap cara berbicara bahasa Jerman sang ibu/bapaknya adalah normal, sehingga aksen bahasa Jerman yang didapatkan oleh sang anak pun akan terkontaminasi oleh aksen bapak ibunya yang notabene bukan merupakan penutur asli bahasa Jerman.

Kesimpulan

Jadi apa kesimpulannya yang bisa kita dapatkan dari tulisan saya di atas?

  1. Adalah mungkin bagi kita untuk menjadikan anak kita untuk menjadi penutur asli dari 2 bahasa sekaligus (berita baik untuk para WNI yang tinggal dan membesarkan anaknya di luar negeri).
  2. Sebenarnya kita bisa menghindari kasus menghilangnya kemampuan anak untuk berbicara bahasa daerah (seperti yang terjadi pada saya dan banyak orang Indonesia lainnya) dengan menggunakan peran orang tua yang berbicara kepada anaknya dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing (berita baik untuk para WNI secara keseluruhan).

Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu dijadikan catatan pendamping dari 2 buah kesimpulan di atas:

  1. Kesimpulan saya di atas bukan merupakan hasil dari penilitian resmi, melainkan dari pengamatan dan pengalaman yang saya alami.
  2. Jika ada jurnal atau penelitian resmi dari lembaga yang bersangkutan dan lebih kompeten dari saya, maka kemungkinan besar jika terjadi kontradiksi, maka penelitian mereka lah yang kemungkinan benarnya lebih besar (jika dibandingkan dengan kesimpulan yang saya dapatkan).
Advertisements
About wahidyankf (186 Articles)
JavaScript Developer. His life-motto is "Learning, Dreaming, and Enjoying life".

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: