News Ticker

Menulis Motivation Letter – Contoh Kasus Pendaftaran Program Master di Jerman

Topik: Pendidikan
Panjang: ± 1400 kata.
Waktu: ± 7 menit. 
TLDR: Tulisan ini memberikan 5 tips yang bisa digunakan untuk menulis motivation letter untuk pendaftaran universitas (di Jerman).

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

In the name of Allah, the Most Beneficient, the Most Merciful

Motivation letter merupakan sebuah tulisan sepanjang kurang lebih 1 halaman yang biasanya menjadi salah satu syarat “wajib” yang harus kita sertakan untuk mendaftarkan diri ke program Pascasarjana dari universitas yang ingin kita masuki. Motivation letter atau yang biasa juga disebut dengan Statement of Purpose/Letter of Intent ini kurang lebih akan berisikan hal-hal di bawah ini:

  • Siapa kita.
  • Apa latar belakang pendidikan kita.
  • Apa saja pengalaman yang kita miliki yang berkaitan dengan bidang studi yang akan kita masuki.
  • Kenapa kita ingin melanjutkan studi kita ke universitas/kampus yang kita daftar tersebut.
  • Apa saja mata kuliah yang ada di dalam program studi tersebut yang menguntungkan untuk kita.
  • Apa yang akan kita lakukan setelah kita selesai menyelesaikan studi kita tersebut.

Sebenarnya sudah ada lumayan banyak sumber di dunia maya yang menurut penulis bagus untuk dijadikan referensi penulisan motivation letter. Di antaranya adalah 2 buah tautan di bawah ini yang ikut membantu penulis di dalam penulisan motivation letter untuk pendaftaran program master di Jerman:

  1. Motivation Letter – Blog Erasmus Mundus
  2. Motivation Letter – Setiopramono

Oleh karena itu penulis hanya akan menambahkan beberapa tips yang mungkin bisa membantu para pembaca sekalian untuk mempertajam motivation letter yang akan para pembaca tulis. Dan di akhir artikel ini, penulis akan melampirkan contoh motivation letter milik penulis yang sudah terbukti cukup ampuh membawa penulis untuk masuk ke program Pascasarjana yang ada di Jerman.

Tips Penulisan Motivation Letter #1 – Tata Bahasa

Salah satu yang harus kita perhatikan di dalam menulis motivation letter adalah tata bahasa. Yang perlu kita ingat di sini adalah merupakan sebuah hal yang penting bagi kita untuk membuat motivation letter kita rapih tanpa ada kesalahan tata bahasa sedikit pun. Kenapa motivation letter ini sebaiknya tidak mengandung kesalahan tata bahasa? Hal ini dikarenakan kemampuan berbahasa dan komunikasi merupakan salah satu hal yang biasanya dinilai pada saat penguji membaca motivation letter kita. Jadi, pastikan motivation letter yang kita tulis bebas dari kesalahan-kesalahan gramatik yang sekecil apa pun.

Tips Penulisan Motivation Letter #2 – Pemilihan Kata dan Budaya Malu-Malu

Salah satu budaya yang paling menonjol dari sebagian orang Indonesia adalah budaya malu-malu. Sebagian dari kita malu untuk membanggakan apa yang menjadi keahlian kita. Hm, tidak membanggakan kemampuan kita sebenarnya merupakan hal yang baik (terutama di dunia nyata). Akan tetapi, ada baiknya bagi kita untuk sekali ini saja menanggalkan hal tersebut (pada saat pembuatan motivation letter). Jangan pernah malu untuk “membanggakan” diri sendiri di dalam motivation letter yang kita tulis!

Kenapa demikian? Mari kita posisikan diri kita sebagai seorang penguji yang bertugas untuk menyaring kandidat yang akan masuk di sebuah universitas. Bayangkan kita duduk di sebuah ruangan, dengan segunung dokumen dari ratusan (atau mungkin ribuan) orang yang mendaftar ke program studi yang kita tangani. Di depan kita ada sebuah meja tua yang berdebu dan berderit karena tuanya tempat dokumen-dokumen tersebut ditumpuk. Sudah mulai terasa kah bagaimana penatnya?

Sekarang perlu diperhatikan bahwasanya kita bukan seorang pengangguran yang menyediakan super banyak waktu luang untuk menghubungi satu per satu kandidat (setidaknya di fase awal seleksi). Kita hanyalah seorang biasa yang “terjebak” di antara belantara dokumen milik kandidat kampus kita, dan harus memilah-milah dokumen yang ada di depan kita tanpa pernah sekali pun bertemu dengan para kandidat. Kira-kira kandidat mana saja yang akan kita pilih dari sekian banyak kandidat tersebut? Para kandidat yang menuliskan semua prestasi yang mereka miliki kah (tentunya yang berhubungan)? Atau para kandidat yang tidak menuliskan prestasi dan kemampuannya? Jelas yang pertama bukan?

Sekali lagi, ini bukan masalah pelajaran Kewarganegaraan yang menekankan para manusia untuk rendah hati. Penulisan motivation letter bukan merupakan lomba untuk menilai siapa yang paling baik budinya, akan tetapi perlombaan untuk “menjual” diri sendiri ke pihak penguji (dalam hal ini pihak universitas/kampus). Jadi pastikan kita mencantumkan semua prestasi yang berhubungan dengan program yang ingin kita masuki. Ingat! Sang penguji tidak akan tahu siapa kita kalau tidak kita tulis. Mereka bukan paranormal atau cenayang!😀

Tips Penulisan Motivation Letter #3 – Satu Motivation Letter untuk Satu Universitas

Mungkin banyak yang tidak melakukan ini dan berhasil, akan tetapi penulis termasuk ke dalam tipe orang yang selalu “habis-habisan” di dalam mengerjakan segala sesuatunya (termasuk di dalamnya membuat motivation letter). Penulis selalu menyarankan setiap orang yang meminta saran kepada penulis untuk membedakan setiap motivation letter yang dikirimkan untuk tiap universitas yang berbeda. Kenapa? Karena penulis meyakini bahwa sebuah motivation letter yang spesifik akan lebih oke dan tepat sasaran daripada sebuah motivation letter yang dibuat secara umum untuk beberapa universitas sekaligus.

Tips Penulisan Motivation Letter #4 – Motivation Letter dan Negara Asal Kita (Indonesia)

Sebenarnya penulis tidak tahu apakah tips penulisan motivation letter yang keempat ini berlaku juga di universitas-universitas yang ada di luar Jerman, akan tetapi tips nomer 4 ini merupakan salah satu tips yang menurut penulis cukup ampuh. Apa sih tips yang keempat? Tipsnya adalah untuk mengaitkan alasan kita mengambil program yang kita daftar dengan kebutuhan yang ada di negara asal kita (Indonesia) dan mengutarakan niat kita untuk kembali ke tanah air setelah kita program studi kita selesai.

Menurut salah seorang guru penulis yang mengajar di Goethe Institut (yang juga merupakan seorang konsultan untuk studi ke Jerman), 2 hal tersebut merupakan sebagian hal yang bisa meningkatkan kesempatan kita untuk diterima di universitas yang ada di Jerman. Tidak masalah apakah setelah studi nanti kita bermaksud untuk bekerja di Jerman (dan mungkin juga negara tujuan studi lainnya) atau tidak, tetap tulis di motivation letter kita bahwa kita akan kembali ke Indonesia setelah studi. Kenapa? Karena dengan berkata demikian, maka pihak penguji akan memiliki semacam kewajiban moral untuk menerima kita di kampusnya.

Nulis sih gampang, terutama buat orang-orang yang tidak ingin bekerja di Jerman (contoh kasus). Tapi bagaimana kasusnya buat orang-orang yang emang niat untuk bekerja di Jerman? Apa tidak akan bermasalah kalau nulis itu?

Tenang saja, Jerman (dan penulis yakin negara lainnya juga) membutuhkan banyak orang pintar! Dan jika anda termasuk orang yang pintar, maka anda akan selalu memiliki tempat di sana. Tidak percaya? Seorang wakil DAAD untuk indonesia yang berdarah Jerman asli pernah mengatakan kepada penulis pada tahun 2011 silam tentang alasan mengapa banyak kemudahan yang diberikan bagi orang asing yang ingin belajar di Jerman. Logika yang wakil DAAD katakan itu cukup simpel (dan cukup masuk akal bagi penulis):

  1. Penduduk jerman memiliki laju pertumbuhan yang minus. Dan dengan laju pertumbuhan seperti sekarang, maka diramalkan bahwa pada tahun 2050 nanti, jumlah penduduk jerman hanya akan tinggal berjumlah sekitar 80 persen dari tahun 2011.
  2. Jerman merupakan negara yang tidak terlalu banyak memiliki sumber daya alam. Negara Jerman hidup dengan menggunakan “bahan bakar” manusia (Sumber Daya Manusia / SDM). Dan merupakan hal yang mengkhawatirkan bahwa seiring jumlah penduduk yang terus berkurang, semakin sulit pula menemukan SDM yang berkualitas.
  3. Dan apa salah satu cara untuk mendapatkan manusia berkualitas? Outsourcing! berikan kenyamanan bagi orang-orang pintar untuk belajar di Jerman, dan mereka akan datang dari berbagai penjuru dunia. Kemudian berikan juga kenyamanan kerja untuk orang-orang yang memang pintar. Win-win solution, para pendatang yang pintar akan mendapatkan kenyamanan yang mereka cari, dan Jerman akan mendapatkan SDM yang berkualitas.

Jadi tidak perlu takut untuk menulis di motivation letter bahwa kita akan kembali ke Indonesia setelah studi kita selesai. Jika kita memang pintar, maka kita akan dibutuhkan dan bisa bekerja di Jerman (dan berbagai negara tujuan studi lainnya). Menurut penulis pribadi, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan adalah: siapkah kita berjuang untuk menjadi pintar?😀

Tips Penulisan Motivation Letter #5 – Tentang Informasi Kampus dan Kurikulum

Sekarang mari kita masuk ke tips yang terakhir: menulis tentang informasi singkat kampus dan kurikulum dari kampus yang menurut kita akan menguntungkan bagi kita di dalam motivation letter yang kita tulis. Kenapa? Karena dengan memasukkan kedua hal tersebut, maka kita akan bisa menunjukkan kepada para penguji bahwa kita serius ingin masuk ke dalam program studi yang mereka buka, dan telah mengerjakan “PR” kita dengan mempelajari informasi tentang program studi yang ingin kita masuki.

Penutup + Bonus: Contoh Motivation Letter yang Sudah Terbukti

Sebagai penutup, di bawah ini penulis sertakan contoh dari motivation letter yang pernah penulis tulis (dan berhasil tembus) untuk pendaftaran program master di beberapa universitas yang ada di Jerman:

  1. Contoh motivation letter – RWTH Aachen 
  2. Contoh motivation letter – TU Chemnitz
  3. Contoh motivation letter – Universität Paderborn
  4. Contoh motivation letter – Universität Duisburg-Essen
  5. Contoh motivation letter – Universität Rostock

Okeh, itu dia 5 tips singkat dari penulis tentang penulisan motivation letter. Semoga bisa membantu para pembaca sekalian untuk memberikan gambaran lebih jauh tentang penulisan motivation letter di dunia “nyata”.😀

About wahidyankf (178 Articles)
Computer Engineer. His life-motto is "Learning, Dreaming, and Enjoying life".

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: