News Ticker

Ngomongin Tentang Al Qur’an Langgam Jawa (Sebuah Pertanyaan Akan Sebuah Kecenderungan)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

In the name of Allah, the Most Beneficient, the Most Merciful

Belakangan lagi heboh tentang pembacaan Al Qur’an dengan menggunakan langgam Jawa di salah satu acara kenegaraan RI. Dan sebelumnya nggak, saya nggak akan membahas tentang boleh tidaknya kita membaca Al Qur’an dengan langgam Jawa, karena sudah ada cukup banyak artikel di luar sana yang membahas hal ini (di sini, di sini, dan di sini misalnya). Yang mau saya tuliskan di sini adalah tentang sebuah pertanyaan tentang sebuah kecenderungan umat saat ini. Okeh, jadi terlepas dari haram atau tidaknya, ada beberapa hadist yang belakangan menarik perhatian saya (di mana juga berhubungan dengan topik ini). Ada hadist yang berbunyi:

Ubayy b. Ka’b reported:

I was in the mosque when a man entered and prayed and recited (the Qur’in) in a style to which I objected. Then another man entered (the mosque) and recited in a style different from that of his companion. When we had finished the prayer, we all went to Allah’s Messenger (ﷺ) and said to him: This man recited in a style to which I objected, and the other entered and recited in a style different from that of his companion. The Messenger of Allah (ﷺ) asked them to recite and so they recited, and the Messenger of Allah (ﷺ) expressed approval of their affairs (their modes of recitation). and there occurred In my mind a sort of denial which did not occur even during the Days of Ignorance. When the Messenger of Allah (ﷺ) saw how I was affected (by a wrong idea), he struck my chest, whereupon I broke into sweating and felt as though I were looking at Allah with fear. He (the Holy Prophet) said to me: Ubayy. a message was sent to me to recite the Qur’an in one dialect, and I replied: Make (things) easy for my people. It was conveyed to me for the second time that it should be recited in two dialects. I again replied to him: Make affairs easy for my people. It was again conveyed to me for the third time to recite in seven dialects And (I was further told): You have got a seeking for every reply that I sent you, which you should seek from Me. I said: O Allah! forgive my people, forgive my people, and I have deferred the third one for the day on which the entire creation will turn to me, including even Ibrahim (peace be upon him) (for intercession).

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ كُنْتُ فِي الْمَسْجِدِ فَدَخَلَ رَجُلٌ يُصَلِّي فَقَرَأَ قِرَاءَةً أَنْكَرْتُهَا عَلَيْهِ ثُمَّ دَخَلَ آخَرُ فَقَرَأَ قِرَاءَةً سِوَى قِرَاءَةِ صَاحِبِهِ فَلَمَّا قَضَيْنَا الصَّلاَةَ دَخَلْنَا جَمِيعًا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ إِنَّ هَذَا قَرَأَ قِرَاءَةً أَنْكَرْتُهَا عَلَيْهِ وَدَخَلَ آخَرُ فَقَرَأَ سِوَى قِرَاءَةِ صَاحِبِهِ فَأَمَرَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَرَءَا فَحَسَّنَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم شَأْنَهُمَا فَسُقِطَ فِي نَفْسِي مِنَ التَّكْذِيبِ وَلاَ إِذْ كُنْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمَّا رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا قَدْ غَشِيَنِي ضَرَبَ فِي صَدْرِي فَفِضْتُ عَرَقًا وَكَأَنَّمَا أَنْظُرُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَرَقًا فَقَالَ لِي ‏”‏ يَا أُبَىُّ أُرْسِلَ إِلَىَّ أَنِ اقْرَإِ الْقُرْآنَ عَلَى حَرْفٍ فَرَدَدْتُ إِلَيْهِ أَنْ هَوِّنْ عَلَى أُمَّتِي ‏.‏

Reference: Sahih Muslim 820 a In-book reference: Book 6, Hadith 332 USC-MSA web (English) reference: Book 4, Hadith 1787

Dan juga hadist ini:

Narrated Ibn Mas`ud:

I heard a person reciting a (Qur’anic) Verse in a certain way, and I had heard the Prophet (ﷺ) reciting the same Verse in a different way. So I took him to the Prophet (ﷺ) and informed him of that but I noticed the sign of disapproval on his face, and then he said, “Both of you are correct, so don’t differ, for the nations before you differed, so they were destroyed.”

حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَيْسَرَةَ، قَالَ سَمِعْتُ النَّزَّالَ بْنَ سَبْرَةَ الْهِلاَلِيَّ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ سَمِعْتُ رَجُلاً، قَرَأَ، وَسَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ خِلاَفَهَا فَجِئْتُ بِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرْتُهُ فَعَرَفْتُ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ وَقَالَ ‏ “‏ كِلاَكُمَا مُحْسِنٌ، وَلاَ تَخْتَلِفُوا، فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا ‏”‏‏.‏

Reference: Sahih al-Bukhari 3476 In-book reference: Book 60, Hadith 143 USC-MSA web (English) reference: Vol. 4, Book 55, Hadith 682

Di dua hadist di atas terlihat bahwa kecenderungan para sahabat adalah untuk menyamakan bacaan dan pengetahuan mereka dengan Nabi SAW. Jadi pertanyaan yang ingin saya kemukakan di sini adalah:

Kalau para sahabat di zaman Nabi SAW dahulu segitu pengennya untuk menyamakan bacaan dan tingkah laku mereka seperti Nabi SAW, kenapa kita malah ingin membedakan diri dengan Nabi SAW?

Dan kalau memang ada hadist yang berkata bahwa cara membaca Al Qur’an itu ada 7 macam, seperti di bawah ini:

Narrated `Abdullah bin `Abbas:

Allah’s Messenger (ﷺ) said, “Gabriel recited the Qur’an to me in one way. Then I requested him (to read it in another way), and continued asking him to recite it in other ways, and he recited it in several ways till he ultimately recited it in seven different ways.”

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، قَالَ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ أَقْرَأَنِي جِبْرِيلُ عَلَى حَرْفٍ فَرَاجَعْتُهُ، فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيدُهُ وَيَزِيدُنِي حَتَّى انْتَهَى إِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ ‏”‏‏.‏

Reference: Sahih al-Bukhari 4991 In-book reference: Book 66, Hadith 13 USC-MSA web (English) reference: Vol. 6, Book 61, Hadith 513 (deprecated numbering scheme)

Lalu

Kenapa kita tidak mencari aman dan tetap berpegang kepada yang tujuh itu saja? Terlebih lagi bahasa arab adalah sebuah bahasa yang sensitif terhadap panjang dan pendeknya pelafalan dari suatu huruf. Maka tidakkah lebih baik untuk kita mencari aman dengan berpegang kepada apa yang telah disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW?

Bukankah seharusnya keinginan terbesar seorang muslim adalah masuk ke dalam umat dari Nabi Muhammad SAW?

Semoga Allah SWT tetap menjaga niat kita dan tetap menjaga lurusnya amal ibadah kita sesuai yang telah diajarkan oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW. Dan semoga Allah SWT menjaga kita dari menjadi bagian dari 72 golongan di dalam umat Islam yang tidak diridhoi oleh Allah SWT.

Aamiin..

Advertisements
About wahidyankf (186 Articles)
JavaScript Developer. His life-motto is "Learning, Dreaming, and Enjoying life".

1 Comment on Ngomongin Tentang Al Qur’an Langgam Jawa (Sebuah Pertanyaan Akan Sebuah Kecenderungan)

  1. Saya setuju dengan pendapat anda,…

    Tidak perlu ada perbedaan bila bisa ada persamaan. Pendapat bahwa perbedaan adalah rahmat tidaklah selamanya bisa dijadikan acuan.

    Kebayang sekali seandainya kita sholat 5 waktu berjama’ah di Mesjid yang berbeda-besa, yang mana ke-lima Imamnya menggunakan lagam dan lahjah daerah masing-masing mereka berasal (misal : Jawa, Sunda, Padang, Batak, Madura).

    Oh iya, Salam kenal Mas,… saya suka membaca isi blog anda.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: